Waspadai 8 Kebiasaan Yang Bisa Berakhir Buruk























 

Suka memencet jerawat, menggigit kuku atau bibir? Mulai, deh, berhati-hati. Kenapa? Sebab, kebiasaan yang (mungkin) Anda anggap aman itu ternyata berpotensi  jadi 'penyakit'.


Memencet Jerawat  
Penderita : Delapan kali lebih banyak dilakukan oleh wanita, 3,8%-nya adalah pelajar atau mahasiswi
    Pada dasarnya, tidak salah untuk mengecek keadaan jerawat. Masalahnya adalah kebanyakan wanita tidak sadar kapan harus berhenti. Makin sering mengecek, tangan kita malah makin gatal untuk memencetnya. Rasanya belum puas kalau belum berhasil mengeluarkan sedikit cairan kental yang ada didalamnya.
    Dilihat dari sisi psikologis, tindakan ini dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan kesempurnaan. Cukup ironis memang karena jika dilihat dari hasilnya, nih, kebiasaan memencet jerawat malah bisa menyebabkan infeksi. Sedangkan dilihat dari alasannya, tindakan ini bisa dibilang cukup tragis karena tujuan awal tindakan ini - yaitu untuk membuat jadi lebih baik - justru malah memperparah kondisi fisik ataupun mental.
    Kebiasaan ini bisa terus berlanjut karena kita merasa stres akibat kondisi wajah yang tanpaknya tidak membaik. Bukannya berhenti, orang cenderung terus melakukan kebiasaan itu tanpa menyadari bahwa tindakan itu justru memperparah keadaannya. Solusi terbaik adalah konsultasi langsung dengan dermatologis untuk mendapatkan perawatan kulit wajah  yang lebih aman dan terjaga.


Menggigit kuku
Penderita : 19-29% anak muda
    Saat ini, kebiasaan menggigit jari sudah menjadi hal yang umum. Bahkan, beberapa lapisan masyarakat sudah tidak lagi menganggapnya sebagai tindakan yang tidak sopan. Pada dasarnya, hal ini memang tidak berbahaya (kecuali kalau Anda tidak lagi sekadar menggigit kuku, tapi sudah mulai mencicipi daging Anda sendiri!). Tapi kebiasaan ini memang kurang bagus untuk tangan Anda.
    Fakta yang ada selama ini adalah kebiasaan ini digunakan sebagai pelarian dari perasaan gugup, tertekan atau juga bosan. Namun yang kurang banyak dibahas, banyak penelitian menunjukkan bahwa ternyata orang yang suka menggigit kuku adalah orang yang kurang percaya diri.
    Rata-rata para pelaku kebiasaan ini ingin berhenti. Tapi hanya ada sedikit dokter yang mungkin bisa membantu karena pada dasarnya tidak ada resep obat khusus untuk penyakit ini. Jika penyebabnya adalah emosi, konseling mungkin bisa membantu. Namun jika Anda melakukannya hanya karena suka, terapi kontradiktif boleh dicoba (lihat boks Terapi Kontradiktif).


Menggertakkan gigi
Penderita : 12,6% anak muda
    Perlu diakui, tidak banyak orang suka menggertakkan gigi (bukan karena menggigil). Biasanya, orang yang punya kebiasaan ini pun melakukannya pada saat sedang tidur. Jadi wajar saja kalau fenomena ini kurang terkenal.
    “Klien sempat kaget waktu saya tiba-tiba melakukannya pada saat rapat. Situasi seperti itu bisa jadi kurang nyaman tidak hanya buat saya tapi juga semua orang. Banyak orang mengira saya melakukannya dengan sengaja karena merasa bosan atau tidak senang. Padahal tidak sama sekali. Saya hanya sedang berpikir,” jelas Andi, 25, sales executive.
    Tidak ada yang tahu pasti apakah penyakit ini disebabkan oleh faktor psikologis atau biologis. Malah, ada yang bilang itu karena keduanya – gabungan dari rasa khawatir, pola tidur yang salah, dan barisan gigi yang tidak teratur.
    Tindakan itu dinilai tidak normal saat kita semakin sering melakukannya. Cara mengetahuinya mudah saja, cukup periksakan diri ke dokter gigi. Dengan begitu, kita akan tahu apakah ada pengikisan besar-besaran pada gigi kita akibat terlalu sering menggertakkan gigi.


Membunyikan buku jari
Penderita : 0,1-0,3% wanita
    Di kalangan wanita, kebiasaan membunyikan buku jari dikenal sebagai hal yang mesti dihindari. Ada mitos orang tua yang mengatakan bahwa kebiasaan tersebut bisa menyebabkan encok pada persendian. Padahal, belum ditemukan penelitian medis yang mampu membuktikan kebenaran penyataan itu.
    Yang perlu diperhatikan adalah apakah kita sengaja membiasakannya atau tidak. Beberapa orang mengaku memang melakukannya hanya karena merasa enak. Saat menggenggam satu tangan dengan tangan yang lain, lalu meremasnya sampai menghasilkan bunyi 'krek' dari buku-buku jarinya. Itu masih terhitung normal.
    Namun jika hal itu jadi sering terjadi tanpa disadari dan tanpa bisa dikendalikan, bisa jadi itu adalah gejala Tourette Syndrome, yaitu kelainan neurologis yang ditandai oleh gerakan bagian tubuh atau bunyi yang dihasilkan secara berulang dan tidak disengaja. Yang (mungkin) lebih banyak diketahui adalah kebiasaan orang mengedipkan mata, menggerakkan bahu atau kepala, membersihkan tenggorokan secara berlebihan (lebih sering dari orang normal).  Namun, kalau selama ini Andalah yang masih memegang kendali atas gerakan dan bunyi-bunyian itu, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan.


Menarik rambut
Penderita : 13-15% anak muda
    Anda pasti tak menyangka bahwa menarik rambut  adalah salah satu kelainan medis, kan. Ada orang yang suka sekali menarik rambut (rambut kepala, bulu mata atau tangan) sampai akhirnya mengalami kebotakan. Tapi biasanya mereka tidak berbuat apapun untuk mengatasinya. Lagipula, siapa yang berani pergi ke dokter dan mengaku “Dok, sepertinya ada yang salah dengan diri saya. Rasanya, saya terlalu sering menarik rambut sendiri.”
    Sebagian besar dari mereka cenderung malu untuk mengakui adanya gejala itu. Mereka memilih untuk tetap diam karena takut dianggap aneh atau punya kelainan jiwa. Padahal, kebiasaan menarik rambut sering kali dikaitkan dengan gejala yang timbul akibat sakit fisik atau mental (perasaan kehilangan sesuatu, misalnya orang yang disayangi). Namun ada juga penelitian baru yang menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa muncul pada usia berapa pun, tanpa sebab yang jelas, dan bisa jadi bukan merupakan tanda/gejala dari kondisi tertentu.


Memutar-mutar ibu jari
Penderita : tidak pasti
    Orang yang suka memutar jari – dan ahli dalam melakukannya – bisa membuat dirinya jadi pusat perhatian tersendiri. Mereka benar-benar hebat dalam memadukan kecepatan dan ketangkasan jarinya. Walapun tindakan itu termasuk sesuatu yang tidak normal, tidak ada efek serius atau membahayakan bagi yang melakukannya. Meskipun demikian, para peneliti sering menyebutkannya sebagai tanda kekhawatiran atau kebosanan. Bahkan ada yang mengaitkannya sebagai gejala obsesi kompulsif yang cukup serius.


Menggigit bibir
Penderita : tidak diketahui
    Sama seperti kebiasaan menghisap jempol dan menggigit kuku, Sigmund Freud berpendapat bahwa menggigit bibir merupakan salah satu bukti dari teori oral fixation-nya. Menurut teori itu, kebiasaan tersebut adalah kondisi untuk mendapatkan stimulasi di mulut yang dianggap sebagai salah satu hal yang membuat kita hidup. Kenyataannya, kita makan dan minum dengan mulut.
    Mereka yang tidak mendapatkan cukup stimulasi di mulut saat kecil berpotensi melakukan oral fixation untuk mendapatkan kepuasan dan kenyamanan. Nah... jika Anda termasuk orang yang percaya dengan teori itu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali jika Anda sudah melukai bibir Anda.
    Dalam dunia kedokteran, kebiasaan menggigit bibir dikenal sebagai oral parafunctional habit, yaitu fungsi lain dari mulut (atau organ didalamnya) yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan makan atau minum. Kedengarannya mungkin serius tapi sebenarnya tidak ada yang berbahaya dari kebiasaan itu. Walaupun, sebagian orang sempat mengaku sering menggigit bibir mereka sampai berdarah.

  
Mengupil
Penderita : hampir 17% remaja
    Jika Anda berpikir bahwa pembicaraan seputar mengupil membuat Anda jijik, maka stop membaca. Banyak teori berkembang mengenai kebiasaan yang satu ini. Ada yang mengatakan bahwa tindakan ini termasuk dalam penyakit obsesif kompulsif. Lainnya lagi  beranggapan kebiasaan ini adalah bagian dari Tourette syndrome. Artinya, kegiatan itu dilakukan tanpa disengaja, dan penderitanya tidak mampu menghentikan keinginannya.
    Beberapa penderita melakukannya sebagai bentuk stimulasi diri untuk mendapatkan perhatian. Contohnya, orang yang suka cari perhatian di keramaian (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) sering kali merasa gugup dan menggunakan kebiasaan ini untuk membuat otak mereka tetap bekerja.
    Yang cukup mengejutkan adalah ternyata banyak penelitian kecil telah dilakukan seputar kebiasaan ini. Dan berdasarkan sebuah penelitian populer, sekitar 91% orang suka mengupil sesekali, dan 9,2% diantaranya melakukannya lebih sering dari yang lain.
    Tapi angka tinggallah angka, yang jadi pertanyaan adalah apakah kebiasaan itu berbahaya? Dilihat dari segi kesehatan, hal itu memang tidak berbahaya. Tapi dilihat dari segi kesopanan, kebiasaan itu sangat tidak diterima. Pelajaran yang bisa kita petik bersama, Anda boleh mengupil sesuka hati hanya jika Anda sedang sendiri, sekali lagi sendiri. 

Komentar

Postingan Populer